Wulansulutnews.com– Kebahagiaan menyelimuti keluarga besar Lombogia–Palar saat ibadah syukur balas gereja pernikahan dr. Berry Joshua Lombogia dan dr. Megumi Wilhelmina Palar, Minggu (21/9/2025).
Rangkaian dimulai dengan ibadah di gereja, kemudian dilanjutkan perayaan di Kiawa Resort, Kawangkoan Utara.
Syukur ini semakin istimewa dengan prosesi adat Minahasa Muntep am Pamale Weru yang sarat makna. Melalui wejangan adat, pemberian simbolik, hingga doa restu, pasangan pengantin baru diteguhkan untuk memulai bahtera rumah tangga.
Puncak perayaan ini adalah prosesi adat Minahasa“Muntep am Pamalé Weru”, sebuah ritual yang menandai masuknya pasangan baru ke dalam kehidupan rumah tangga.
Prosesi diawali dengan parade penari Kabasaran yang gagah, diiringi bunyi tambur dan tetengkoren. Keluarga besar kedua mempelai kemudian naik ke puade, panggung adat tempat peristiwa sakral dilaksanakan.
Di hadapan keluarga, jemaat, dan para Tonaas serta Walian, pasangan pengantin diperkenalkan dan diteguhkan. Mereka kemudian menerima “Wowoka” (Wejangan Adat), berisi “Siou Le’tek” (Sembilan Kesetiaan), yakni pedoman hidup yang diwariskan leluhur Tou Minahasa.
Siou Le’tek – Sembilan Kesetiaan. Wejangan adat ini menjadi bekal utama keluarga baru dalam menapaki hidup bersama:
1. Letek asi amang kasuruan – Setia dan taat kepada Tuhan Allah.
2. Letek am paumungan e tou nimaéman – Setia dan taat kepada gereja serta ajarannya.
3. Letek am banua wo sé kawanua – Setia kepada tanah air dan kampung halaman.
4. Letek am paesaan/pakasan im banua – Setia menjaga persatuan dan kesatuan negeri.
5. Letek am kasuruan e familia – Setia kepada keluarga besar.
6. Letek am kawenguan – Setia dalam bekerja dan berusaha.
7. Letek am kakéteran wo ka’esaan – Setia pada kejujuran, kebaikan, dan kasih.
8. Letek am pangalowangan – Setia menghormati hukum dan aturan masyarakat.
9. Letek am wasian – Setia dalam menjaga kehormatan diri dan keluarga.
Kesembilan wejangan ini adalah warisan leluhur Minahasa yang egaliter, religius, dan sarat makna spiritual, menjadi penuntun bagi rumah tangga baru.
Simbol yang tak kalah penting dalam prosesi ini adalah Kain Keter sepanjang sembilan meter. Dibagi dalam tiga bagian, kain tersebut diserahkan kepada keluarga Lombogia–Ratumbuisang, keluarga Palar–Tendean, dan keluarga baru Lombogia–Palar.
Kain ini bukan sekadar tenunan, melainkan simbol ikatan kekerabatan yang mempererat hubungan keluarga besar dan mengingatkan pasangan baru bahwa pernikahan menyatukan lebih dari dua individu ia mempersatukan keluarga dan tradisi.
Selain itu, orang tua kedua mempelai juga menyerahkan bahan pangan dan perlengkapan rumah tangga. Persembahan sederhana ini sarat makna, bekal kasih dan doa, sekaligus tanda keyakinan bahwa Berry dan Megumi siap mengarungi bahtera rumah tangga dengan penuh tanggung jawab.
Acara turut dihadiri Wakil Bupati Minahasa Vanda Sarundajang, SS, Sekretaris Daerah, Dr. Lynda Watania, M.M., M. Si., Asisten I, Drs. Riviva Maringka, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Minahasa, kerabat dan keluarga besar kedua mempelai.
Dharma Palar, ayah mempelai wanita, menyampaikan apresiasi kepada semua pihak. “Mulai dari pemberkatan pernikahan, resepsi, hingga syukur balas gereja ini, kami sekeluarga sungguh bersyukur atas segala doa dan kehadiran dari semua tamu undangan”ujarnya.
Kedua mempelai juga mengungkapkan syukur. “Kami percaya semua ini adalah anugerah Tuhan. Terima kasih untuk keluarga, sahabat, dan jemaat yang sudah mendoakan serta hadir mendukung perjalanan baru kami,”ungkap dr. Berry dan dr. Megumi.
Perayaan syukur ditutup dengan doa dan penandatanganan prasasti kenangan “Matic in tu’u- tujuan” serta sesi foto bersama, menandai awal perjalanan baru keluarga Lombogia–Palar yang diberkati. (pink)









