Wulansulutnews.com – Wakil Bupati Minahasa Vanda Sarundajang, SS., MAP., mengajak masyarakat untuk menjadikan literasi sebagai bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia di tengah derasnya arus digitalisasi.
Pesan tersebut disampaikan Vanda saat menghadiri pembukaan Festival Literasi Kabupaten Minahasa Tahun 2026, yang digelar di Gedung Layanan Perpustakaan Daerah Kabupaten Minahasa, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan Kabupaten Minahasa ini turut dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Minahasa Dra. Riany S. Suwarno, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Minahasa Jefry Tangkulung, serta Kepala Bagian Protokol Minahasa Shanti Lengkong.
Dalam laporannya, Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Minahasa Dra. Riany S. Suwarno mengatakan, Festival Literasi merupakan agenda tahunan yang menjadi ruang untuk merayakan sekaligus mendorong budaya membaca, menulis dan kreativitas masyarakat.
Menurut Riany, Festival Literasi tahun ini juga menjadi momentum untuk menampilkan hasil transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang dilaksanakan melalui perpustakaan desa dan kelurahan di Kabupaten Minahasa.
“Melalui kegiatan ini juga dipersembahkan hasil transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial melalui perpustakaan desa dan kelurahan yang merupakan peserta lomba perpustakaan desa dan kelurahan di Kabupaten Minahasa, turut juga melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai bagian dari rangkaian kegiatan,” jelasnya.
Sementara itu, Wabup Vanda Sarundajang menegaskan bahwa festival literasi tidak boleh dimaknai sebatas pemenuhan agenda atau program pemerintah.
Menurutnya, literasi merupakan bagian penting dalam membentuk masyarakat yang gemar membaca, mampu menulis, berpikir kritis, berkomunikasi, serta menghasilkan karya.
“Festival literasi bukan sekadar sebuah kegiatan dalam rangka memenuhi program yang telah disusun, tetapi lebih daripada itu, festival ini merupakan momentum penting untuk membangun budaya membaca, menulis, berpikir kritis, berkomunikasi dan berkarya di tengah masyarakat,” ujar Vanda.
Vanda juga menyoroti tantangan budaya literasi di tengah perkembangan teknologi digital. Kemudahan mengakses informasi melalui telepon genggam, tablet dan berbagai perangkat digital lainnya, menurutnya, perlu diimbangi dengan tetap mempertahankan kebiasaan membaca buku secara fisik.
“Kemudahan tersebut memang memberikan akses informasi yang lebih luas, termasuk untuk membaca buku dan berbagai literatur secara digital. Namun, budaya membaca buku secara fisik tetap perlu dipertahankan,” katanya.
Ia menilai, membaca melalui perangkat digital maupun buku fisik memiliki pengalaman yang berbeda. Karena itu, perkembangan teknologi tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan kebiasaan membaca buku secara langsung.
“Walaupun dengan era digitalisasi saat ini akses informasi semakin terbuka dan kita bisa membaca melalui gadget kapan saja dan di mana saja, budaya membaca buku secara fisik tetap penting untuk dipertahankan,” ungkapnya.
Di hadapan peserta festival, Vanda kemudian mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak menganggap membaca sebagai aktivitas yang membosankan.
“Jangan pernah merasa bahwa membaca adalah kegiatan yang membosankan. Dari membaca kita mengenal dunia, dari menulis kita menyampaikan gagasan, dari belajar kita menemukan peluang, dan dari pengetahuan kita membangun masa depan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Wabup Vanda mengajak seluruh perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Minahasa untuk terus memberikan dukungan terhadap pengembangan budaya literasi.
Ia menekankan agar berbagai program literasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dilaksanakan secara berkelanjutan, inovatif dan inklusif sehingga manfaatnya dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
“Program-program literasi harus dilaksanakan secara berkelanjutan, inovatif, inklusif dan mampu menjangkau seluruh masyarakat,” pungkasnya.
Festival Literasi Kabupaten Minahasa Tahun 2026 diharapkan menjadi ruang bersama untuk memperkuat budaya baca dan kreativitas masyarakat sekaligus mendorong perpustakaan agar semakin terbuka, inklusif dan memberi manfaat nyata bagi pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Minahasa. (pnk)









